Tampilkan postingan dengan label tulisan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tulisan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 02 Juni 2011

BANK

1.Sejarah, Definisi, dan Fungsi Bank

a. Sejarah Bank

Menurut sejahranya, bank bersal dari bahasa Yunani, ”banco” yang artinya bangku atau meja ( meja tersebut pada saat itu digunakan sebagai tempat tukar-menukar uang ). Pada mulanya, kegiatan bankberfungsi sebagai pedagang uang. Bank dapat membeli dan menjual uang. Bank juga menerima titipan simpanan uang logam. Sebagai tanda bukti bahwa seseorang telah menitipkan uang, diberi nota emas Smith yang dikenal dengan nama Gold Smith Notes. Gold smith notes inilah yang sekarang dikenal dengan uang giral.

b. Definisi Bank

1) Menurut Undang-Undang pokok perbankan No.7 Tahun 1992, bank didefinisikan sebagai berikut. ”Bank adalah badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dakam bentuk simpanan dan menyalurkan kepada masyarakat dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat.”

Berdasarkan definisi-definisi tersebut, dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya yang dimaksud dengan bank adalah lembaga keuangan yang menghimpun dana dari masyarakat yang kelibihan dana dan menyalurkannya kepada masyarakat yang kekuranga dana. Bank juga dapat memberikan pelayanan jasa dibidang-bidang keuangan lainnya, seperti mengirim uang (wesel ) mentransfer uang, menyediakan jaminan bank ( bank garansi ), melaksanakan inkaso, dan melakukan diskonto.

c. Fungsi Bank

Berdasarkan definisinya, secara umum fungsi bank dapat dikelompokkan menjadi tiga, yaitu sebagai berikut.

1) Sebagi penerima kredit ( kredit pasif ) dari masyarakat, dalam bentuk

a) simpanan atau tabungan biasa yang pengambilanya dapat dilakukan setiap saat;

b) deposito atau tabungan berjangka yang hanya bisa diambil dalam jangka waktu tertentu;

c) simpanan dalam bentuk giro atau rekening koran, yaitu simpanan atas nama penyimpan yang hanya bisa diambil dengan menggunakan cek atau bilyet giro.

2) Sebagai pemberi kredit ( kredit aktif ) kepada masyarakat, yyaitu bank dapat membetikan kreditkepada masyarakat, baik kredit produktif maupun kredit konsumtif. Dana yang diberikan bisa berasal dari simpanan, deposito, maupun dari bank sendiri.

3) Sebagai perantara lalu lintas moneter, yaitu dalam menjalankan fungsinya sebagai perantara lalu lintas moneter, bank dapat melakukan jasa pengiriman uanga serta mengatur diskonto dan inkaso.

2) Jenis-Jenis Bank

Pembagian jenis-jenis bank dapat dikelompokkan menurut fungsinya, kepemilikan, bentuk hukum, dan organisasinya.

1. Jenis Bank Menurut Fungsinya

Berdasarkan Undang-Undang Pokok Perbankan No.7 Tahun 1992, jenis bank menurut fungsinya dikatagorikan sebagai berikut.

a). Bank Sentral ( Bank Indonesia )

Bank senrtal ( Bank Indonesia ) yaitu bank yang berfungsi sebagai bank sirkulasi dan sebagai induk dari bank-bank lainnya ( banker’s of bank ).

Tugas-tugas pokok bank sentaral adalah sebagai berikut:

1. Banak Sentral sebagai Bank bagi Pemerintah

Setiap hari pemerintah melakukan kegiatan pengeluaran dan penerimaan uang. Untuk melakukan kegiatan tersebut, pemerintah memerlukan jasa bank. Bank sentral bertindak sebagai lembaga keuangan yang menyimpan uang milik pemerintah. Pemerintah juga menggunakan jasa bank sentral untuk mengirim dan membayar uang kepada pemerintah daerah dan departemen-departemen pemerintah yang lain. Dengan kata lain, bank sentral bertugas sebagai pengelola keuangan pemerintah. Pada beberapa kasus, pengeluaran pemerintah lebih besar daripada penerimaan pemerintah sehingga memerlukan pinjaman luar negeri, dengan cara mengeluarkan treasury bill, yaitu pinjaman pemerintah dalam jangka pendek, biasanya setiap tiga bulan, enam bulan, sembilan bulan, atau satu tahun. Treasury bill dijual kepada lembaga keuangan dan masyarakat. Peran bank sentral dalam hal ini adalah diberi kekuasaan oleh pemerintah untuk menentukan dan mengubah tingkat suku bunga dari treasury bill tersebut.

2. Bank Sentral sebagai Bank bagi Bank Umum

Bank sentral sering disebut bank bagi bank ( banker’s of bank) atau sering disebut sumber pinjaman terakhir ( lender of last rasort ). Maksudnya, bahwa bank sentral dapat melanyani bank umum dalam memberikan pinjaman dan menerima simpanan dari bank umum. Bank sentral tidak melanyani bank umum secara langsung, tetati hanya melanyani bank umum.

3. Bank Sentral sebagai Pngawas Kegiatan Bank Umum dan Lembaga Keuangan Lainnya.

Dalam menjalankan usahanya, bank sentral diberi kekuasaan oleh pemerintah untuk mengawasi dan memberikan petunjuk-petunjuk kepda bank umum dan lembaga keuangan lainnya. Bank sentral dapat mengeluarkan praturan-peraturan untuk mengawasi kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh bank umum dan lembaga keuangan lain. Sering kali dalam menjalankan usaha ini, bank umum dan lembaga keuangan menyalahi aturan, misalnya menberi pinjaman yang terlalu banyak sehinhga uang tunai yang ditinggalkan tidak mencukupi sebagai cadangan. Hal ini yang bisa terjadi apabila mereka memberikan pinjaman terlalu banyak akan menyebabkan timbulnya inlflasi. Dalam hal itu bank sentral dapat berfungsi sebagai pengawas dan pengatur kegiatan ekonomi melalui kebijakan moneter.

4. Bank sentral sebagai pengawas Kegiatan perdangan Luar Negeri dalam Rangka manjaga kestabilan Nilai Mata Uang Dalam Negeri

Salah satu usaha yang dapat dilakukan oleh bank sentral untuk menjaga kestabilan ekonimo adlah dengan cara mempertahankan kurs mata uang dalam negeri terhadap mata uang asing. Untuk memcapai tujuan tersebut, yang harus dilakukan pemerintah adalah menjaga keseimbangan antara nilai ekspor dan impor. Hal lain yang harus dijaga adalah bank sentral harus menyediakan cadangan devisa (valuta asing) yang cukup agar sewaktu-waktu dapat diguanakan unutk membiayai pembanyaran uang asing. Contohnya, apabila terdapat tekanan-tekanan untuk enurunkan nilai kurs mata uang dalam negeri, bank sentral bertugas menghapuskan tekanan tersebut. Salah satu langkah yang diambil oleh bank sentral ialah meningkatkan suku bunga.

5. Bank Sental sebagai pencetak uang dan Penjamin Ketersediaan Uang

Pemerintah memberi kekuasaan ( hak oktroi = hak tunggal ) kepada bank sental untuk mencetak dan mengedarkan uang kartal yang bertujuan memperlancar kegiatan perdagangan dan proses produksi di dalam negeri. Dalam melaksanakan tugasnya, bank sentral harus dapat menentukan dengan tepat besarnya jumlah uang yang harus disediakan dalam jangka waktu tertentu sehingga dapat menjamin kelancaran perdagangan dan produksi.

b) Bank Umum

Bank umum merupakan bank yang memberikan jasa melalui mekanisme pembanyaran. Tugas pokok bank umum adalah menghimpun dana dari masyarakat, memberikan pinjaman kepda masyarakat, dan membrikan jasa melalui mekanisme keuangan kepada masyarakat.

Usaha- uaha yang dapat dilakukan oleh bank umum, diantaranya

1) memberi pinjaman dan menerima pinjaman dari perusahaan lain atau masyarakat ;

2) menerima titipan barang-barang berharga ;

3) melakukan kegiatan dalam valuta asing ;

4) melayani jasa pengiriman ( transfer ) antarbank ;

5) melakukan giro dan inkaso antarbank ;

6) tidak boleh melakukan usaha asuransi, tetapi boleh mendirikan anak perusahaan yang melakukan usaha asuransi.

Berikut adalah keistimewaan yang dimiliki oleh bank umum:

1) Bank umum dapat menciptakan tabungan yang sewaktu-waktu dpat diambil dengan cek atau giro ( tabungan giral ). Keistimewaan tabungan giral ini dapat diambil dengan menggunakan cek. Artinya, boleh diambil bukan oleh pemiliknya sedangkan dilembaga keuangan lain tabungan hanya boleh diambil oleh pemilik tabungan.

2) Bank umum dapat menciptakan daya beli baru dalam perekonomian. Artinya, bank umum dapat menciptakan uang giral.

3) Bank umum memberikan pinjaman jangka pendek. Artinya, bank umum dapat menjadi mitra perusahaan untuk menyediakan dana yang sesuai dengan keadaan perekonomian pada saat itu.

c) Bank Perkreditan Rakyat

Bank Perkreditan Rakyat adalh bank yang hanya menerima simpanan dalam bentuk tabungan dan deposito. Uasaha yang bisa dilakukan oleh Bank Perkreditan Rakyat ( BPR ), yaitu

1) menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk tabungan dan deposito;

2) memberikan pinjaman kepada masyarakat;

3) menyedikan fasilitas pertukaran valuta asing.

BPR dilarang melakukan usaha :

1) menerima simpanan dalam bentuk giro;

2) melakukan lalu lintas moneter, seperti transfer, kliring, wesel;

3) melakukan pembayaran keluar negeri;

4) melakukan usaha asuransi.

Contoh bank yang termasuk BPR, yaitu bank desa, lumbung desa, bank pasar, dan Badan Kredit Desa ( BKD).

d) Bank Syariah

Lembaga keungan syariah mulai dirintis di Indonesia pada 1992 sejalan dengan dengan berlakunya Undang-Undang No.7 Tahun 1992 tentang Perbankan. Sebelumnya, telah berdiri Bank Islam pertama di Indonesia yaitu Bank Muamalat Indonesia ( BMI ) pada 2 September 1991. keberadaan lembaga keuangan syariah semakin menampakan perkembangan yang bearti, seperti tumbuhnya Baitul Maal wat Tamwil ( BMT ) dan banyak berdirinya Bank Perkereditan Syariah seta beroperasinya Perbankan Umum Syariah.

Bank syariah adalah bank yang berdasarkan, antara lain kemitraan, keadilan, transparansi, dan universal, serta melakukan kegiatan usaha perbankan berdasarkan prinsip syariah. Bank syariah beropersi atas dasar konsep bagi hasil dan tidak menggunakan bunga sebagi alat untuk memperoleh pendapatan maupun membebankan bunga atas penggunaan dana atau pinjaman. Berbeda dengan bank nonsyariah, bank syariah tidak membedakan secara tegas antara sektor moneter dan sektor riil sehingga dalam kegiatan uasahanya dapat melakukan transaksi-taransaksi sektor riil, seperti jual beli dan sewa manyewa.

Kegiatan bank syariak merupakan implementasi prinsip ekonomi Islam dengan beberapa karakteristik, yaitu:

1) pelarangan riba dalam berbagai bentuknya;

2) tidak mengenal konsep nilai waktu dari uang (time value of money);

3) konsep uang sebagai alat tukar, bukan sebagi komoditas;

4) tidak diperkenankan menggunakan dua harga untuk satu barang;

5) tidak diperkenankan dua transaksi dalam satu akad

Perbedaan antara bank konvensiaonal dan bank syariah dapat dilihat dari dua sisi, yaitu dari sisi funding (penarikan dana dari masyarakat) dan sisi lending (pembiayaan atau perkereditan ). Bank konvensioanal memberikan fasilitas kredit (debitur) dengan keuntungan jasa (bunga) bagi pihak bank sebesar persentase tertenru sesuai dengan jumlah kredit dan ditetapkan pada saat akad kredit. Pihak debitur wajib mengembalikan failitas kredit berupa pokok da nilai bunganya, baik usahanya untung atau rugi. Dari sisi funding, bank konvensiaonal menerik dana dari masyarakat (kreditur). Misalnya dalam bentuk tabungan dan pemberian jasa simpanan (bunga) sebesar persentase tertentu sesuai dengan besar simpanan dan

ditetepka pada saat kreditur membuka rekening tabungan tau berdasarkan tingkat suku bunga tabungan yang berlaku.

Bank syariah menberikan fasilitas kredit kepada debitur dengan dua pola, yaitu pola investasi dan pola jual beli.

1) Pola Investasi

Bank syariah menginvestasikan dana kepada debitur dengan sistem bagi hasil yang ditetapkan dalam akad bukanlah nilai hasil yang harus diterima pihak investor (bank), melainkan persentase bagi hasil. Oleh karena itu, keuntungan yang di terima pihak bank bisa besar ataupun kecil, bergantung pada hasil yang dapat diraih melalui usaha si debitur. Bahkan, pihak bank menerima risiko terhadap kemungkinan kerugian pada usaha yang dijalankan si debitur.

2) Pola Jual Beli

Pada pola ini bank syariah memberikan fasilitas kredit kepada debitur dengan cara jual beli yang pembayarannya dikredit oleh debitur. Pihak bank membeli barang yang diperlukan si debitur. Kemudian menjualnya kepada debitur dengan harga tertentu (sebesar harga pokok ditambah selisih keuntungan bagi pihak bank). Dalam hal ini, pihak bank menadapat keuntungandari transaksi jual beli barang, bukan dari transaksi meminjamkan uang.

Dari sisi funding (panarikan dana dari masyarakat), bank syariah menerima dana dari masyarakat dengan dua pola, yaitu pola titipan dan pola simpanan investasi.

1) Pola Titipan (Wadi’ah)

Pihak bank menerima titipan dana dari masyarakat ( kreditur) dengan akad bahwa pihak bank dapat menggunakannya untuk keperluan usahanya untuk itu, pihak bank dapat memberikan hadiah atau bonus kepada si kreditur sesuai dengan laba yanga berhasil diraihnya.

2) Pola Simpanan Investasi (Mudharabah)

Pihak kreditur (masyarakat) menyertakan dana kepada bank untuk digunakan sebagai investasi bank pada debitur. Berdasarkan pola ini, kreditur berhak mendapat bagian dari hasil usaha yang dijalankan si debitur.

2) Jenis Bank menurut Kepemilikannya

Menurut kepemilikannya, bank dikelompokan sebagai berikut.

a)Bank Milik Negara

Bank Milik Negara adalah bank yang modalnya berasal dari kekayaan negara yang dipisahkan. Bank milik nagara dikelompokan menjadi:

1) Bank Umum Milik Negara

a) Bank Rakyat Indonesia (BRI)

b) Bank Mandiri

c) Bank Negara Indonesia 1946 (BNI’46)

2) Bank Tabungan

Bank Tabungan Nagara (BTN)

3) Bank Pembangunan

Bank Pembangunan Daerah (BPD), contohnya Bank Jabar dan BPD Jateng

b) Bank Milik Swasta

Bank milik swasta adalah bank yang modalnya berasal dari perseorangan atau swasta. Bank milik swasta hanya bisa didirikan dan menjalankan usaha setelah mendapatkan izin dari Menteri Keuangan dengan mendengarkan pertimbangan-pertimbangan dari bank Indonesia. Contoh bank milik swasta yaitu BCA, Bank Niaga, Bank Permata, dan Bank Danamon.

c)Bank Koperasi

Bank koperasi adalah bank yang modalnya berasal dari perkumpulan koperasi. Contoh bank koperasi yaitu bank umum koperasi Indonesia (Bukopin).

3) Jenis Bank menurut Bentuk Hukumnya

Menurut bentuk hukumnya bank dapat dibedakan menjadi

a) Bank yang berbentukan perseroan terbatas ( PT)

b) Bank yang berbentuk Firma

c) Bank yang berbentuk bandan usaha perseorangan

d) Bank yang berbentuk koperasi

4) Jenis Bank menurut Organisasinya

Menurut Organisasinya bank dapat dibedakan sebagai berikut

a) Unit banking adalah bank yang hanya mempunyai satu oarganisani dan tidak mempunyai cabang didaerah lain.

b) Branch Banking adalah bank yang mempunyai cabang-cabang didaerah lain

c) Correspodenscy Banking adalah bank yang dapat melakukan pemerikasaan dokumen eskpor impor dan mempunyai kegiatan utama di luar negeri.

3. Produk-produk Perbankan

1. Produk yang tergolong kredit pasif

a. Tabungan

Tabungan adalah simpanan yang penyimpanan dan penarikannya tidak terikat dengan jangka waktu tertentu. Simpanan dalam bentuk tabungan boleh diambil oleh si pemiliknya kapan saja jika ia memerlukannya.

b. Giro

Giro adalah simpanan yang penarikannya bisa dilakukan kapan saja, tapi hanya bisa diambil dengan mengguanakan cek atau giro bilyet. Giro dapat dipergunakan sewaktu-waktu untuk alat pembayaran

  1. Deposito Berjangka ( Time deposits)

Deposito berjangka adalah simpanan yang penarikannya hanya bisa dilakukan pada jangka waktu tertentu, biasanya satu bulan, tiga bulan, enam bulan, dan duabelas bulan.

  1. Sertifikat Deposito

Sertifikat Deposito adalah salah satu brntuk deposito berjangka yang surat buktinya dapat diperjualbelikan.

e. Deposits on Call

Deposits on call adalah simpanan yang tetap di bank. Selama deposan tidak memerluakannya, deposito tersebut tidak dapat diambil. Jika ia akan mengambil simpananya terlebih dahulu harus memberitahukan kepada pihak bank

f. Loan Deposits

Loan deposits adalh pinjaman yang dititipkan lagi di bank yang dapat diambil sewaktu-waktu.

2. Produk Perbankan yang Termasuk Kredit Aktif

a. Kredit Rekening Koran

Kredit rekening koran merupakan produk pemberian kredit dari bank kepada nasabah dengan ketentuan kredit bisa diambil sesuai dengan kebutuhan. Jaminan kredit ini bisa dalam bentuk surat berharga.

b. Kredit Akseptasi

Kredit akseptasi adalah pinjaman yang diberikan kepada nasabak dengan cara mengeluarkan wesel dan dapat diperdagangkan oleh pemenangnya.

c. Kredit Raimbers (Letter of Credit)

Kredit rembers adalah pinjaman yang diberikan kepada nasabah untuk membantu proses pembayaran atas barang-barang yang di impor dari luar negeri. Maksudnya, seseorang dapat melakukan impor barang dari luar negeri dan pemnayarannya dapat dilakukan sementara oleh bank. Setelah importir mendapatkan hasil, barulah ia membayar kepada bank sesuai dengan perjanjian semula.

d. Produk Perbankan yang Berupa jasa Lalu Lintas Moneter

e. Mengirim Uang atau Transfer

Transfer adalah suatu jasa pengiriman uang yang dilakukan oleh bank untuk membantu nasabah (masyarakat) mengirim uang dari satu tempat ke tempat lain, baik dalam bentuk rupiah maupun dalam bentuk mata uang asing.

f. Melakukan Inkaso (Collection)

Bank dapat melakukan inkaso, yaitu memberikan jasa penagihan utang yang dimiliki nasabahnya atas nasabah lain. Atas jasanya ini bank akan mendapat jasa sebesar nota inkaso yang telah disepakati.

g. Melakukan Diskonto

Bank dapat memberikan jasa pembelian atau penjualan surat-surat berharga yang dijamin oleh bank bersangkutan.

h. Melakukan Banker Orders

Banker Orders (delegasi kredit) adalah pemberian kuasa dari badan hukum atau seseoarang untuk melakuakan pembayaran sejumlah uang dalam jangka waktu yang talah ditentukan kepada badan hukum tau seseoarang secara berkala misalnya dalam pembayaran rekening listrik dan telpon.

i. Melakukan Jual Beli cek Perjalanan (Travellers Cheque)

Cek perjalanan adalah cek yang dapat diperjual belikan dalam berbagai bentuk mayta uang sesuai kehendak pembeli

j. Melakukan Jual Bali Valuta Asing

k. Mengeluarkan Kartu Kredit (Credit Card)

l. Melakukan transaksi jul beli surat-surat berharga

m. Menyedikan Jaminan bank (Bank Garansi)

Bank dapat bertindak sebagai penjamin atas nasabahnya untuk memenuhi kewajiban kepada pihak lain sesuai dengan perjanjian. Maksudnya apabila nasabah sudah membuat perjanjian dengan pihak lain kemudian nasabah bank tersebut tidak dapat memenuhi kewajibannya bank harus memenuhi kewajiban nasabah yang bersangkutan sesuai dengan perjanjian.

Sumber : Juli Irmayanto, dkk. Bank dan Lembaga Keuangan: 2002.

ANALISIS FUNDAMENTAL SEBAGAI DASAR PENENTUAN DALAM MEMILIH SAHAM SUATU PERUSAHAAN (STUDI KASUS PADA PT FAJAR SURYA WISESA Tbk DAN PT SUPARMA Tbk)”


ABSTRAK

RESTA AZZAHRA. 20207910

“ANALISIS FUNDAMENTAL SEBAGAI DASAR PENENTUAN DALAM MEMILIH SAHAM SUATU PERUSAHAAN (STUDI KASUS PADA PT FAJAR SURYA WISESA Tbk DAN PT SUPARMA Tbk)”

PI Jurusan Akuntansi, Fakultas Ekonomi, Universitas Gunadarma, 2010

Kata Kunci : Rasio, Laporan, Fundamental

(ix + 57 + Lampiran)

Investasi dalam saham memerlukan analisis, tidak sedikit trader yang mengalami kerugian karena tidak terlebih dahulu menganalisa suatu saham sebelum membelinya. Salah satu analisis yang dipakai adalah analisis fundamental. Analisis fundamental merupakan metode analisis yang didasarkan pada fundamental ekonomi suatu perusahaan. Teknik ini menitik beratkan pada rasio keuangan, oleh karena itu laporan keuangan merupakan informasi yang sangat penting.

Tujuan dari penulisan ini adalah untuk mengetahui perusahaan mana yang mempunyai kinerja kuangan terbaik dengan menggunakan lima rasio, yaitu rasio likuiditas, rasio aktivitas, rasio leverage, rasio profitabilitas, dan rasio pasar. Masing-masing rasio diwakili oleh dua rumus. Data yang digunakan adalah neraca dan laporan laba rugi periode 31 Desember 2005 sampai 31 Desember 2009.

Berdasarkan hasil perhitungan rasio keuangan dan setelah dibandingkan secara internal dan eksternal, perusahaan yang memiliki kinerja lebih baik adalah PT Fajar Surya Wisesa Tbk. Dari nilai rata-rata kelima rasio, PT Fajar Surya Wisesa Tbk memiliki tiga nilai rata-rata rasio keuangan yang lebih baik, yaitu rasio aktivitas, rasio profitabilitas dan rasio pasar. Nilai rata-rata masing-masing rasio adalah, Fixed Asset Turn Over 0,88, Total Asset Turn Over 0,65, Net Profit Margin 4,46%, Return on Asset 2,99%, Earning per Share 43,81, dan Book Value per Share 519,39.

Daftar pustaka (2003-2009)

Latar Belakang Masalah

Pasar modal saat ini dipandang sebagai sarana efektif untuk mempercepat pembangunan suatu negara. Melalui pasar modal dimungkinkan terciptanya usahawan yang dapat menggalang penyerahan dana jangka panjang dari masyarakat untuk disalurkan ke sektor-sektor produktif. Hal ini sejalan dengan fungsi pasar modal yaitu meningkatkan dan menghubungkan aliran dana jangka panjang dengan kriteria pasarnya secara efisien yang akan menunjang pertumbuhan riil ekonomi secara keseluruhan.

Dalam kegiatan investasi di pasar modal salah satu instrument yang dipergunakan adalah saham. Saham merupakan bukti yang menunjukkan penyertaan modal di suatu perusahaan atau merupakan bukti kepemilikan atas suatu perusahaan investasi yang ditanamkan pada saham oleh investor tentunya mengharapkan return. Return yang diharapkan pada saham yaitu capital gain dan deviden. Capital gain adalah keuntungan yang di peroleh investor dimana saham yang dimiliki mempunyai harga pasar yang lebih tinggi dibandingkan dengan pengorbanan yang dilakukan pada saat memperoleh saham tersebut, sedangkan deviden sangat tergantung pada Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) baik mengenai jumlah, transaksi pembagian, tanggal pengumuman dan tanggal pembayarannya.

Investasi dalam saham memerlukan analisis, tidak sedikit trader yang mengalami kerugian karena tidak terlebih dahulu menganalisa suatu saham sebelum membelinya. Salah satu analisis yang dipakai adalah analisis fundamental. Analisis fundamental merupakan metode analisis yang didasarkan pada fundamental ekonomi suatu perusahaan. Teknik ini menitik beratkan pada rasio keuangan, oleh karena itu laporan keuangan merupakan informasi yang sangat penting, karena laporan keuangan menggambarkan aspek fundamental perusahaan yang bersifat kuantitatif. Dengan melakukan analisis fundamental investor dapat memproyeksikan dan menilai suatu perusahaan yang dapat memberikan keuntungan bagi investor. Bertolak dari uraian di atas, maka penulis tetarik untuk melakukan penelitian dengan judul, “ANALISIS FUNDAMENTAL SEBAGAI DASAR PENENTUAN DALAM MEMILIH SAHAM SUATU PERUSAHAAN (STUDI KASUS PADA PT FAJAR SURYA WISESA Tbk DAN PT SUPARMA Tbk)”.

Perumusan Masalah

Dalam uraian latar belakang masalah di atas, dapat diambil suatu permasalahan yang dianggap penting untuk diputuskan, yaitu :

1. Dengan menggunakan rasio likuiditas, rasio aktivitas, rasio leverage, rasio profitabilitas, rasio pasar, emiten mana yang mempunyai kinerja keuangan yang terbaik.

Batasan Masalah

Penulis membatasi masalah dengan membandingkan dua perusahaan yaitu PT Fajar Surya Wisesa Tbk dan PT Suparma Tbk dengan menggunakan rasio likuiditas, rasio aktivitas, rasio leverage, rasio profitabilitas dan rasio pasar. Masing-masing rasio diwakili oleh dua rumus, yaitu rasio likuiditas yang terdiri dari Current Ratio dan Quick Ratio, rasio aktivitas terdiri dari Fixed Asset Turn Over dan Total Asset Turn Over, rasio leverage terdiri dari Debt Ratio dan Debt to Equity Ratio (DER), rasio profitabilitas terdiri dari, Net Profit Margin dan Return on Asset (ROA), dan rasio pasar terdiri dari Earning per Share (EPS) dan Book Value per Share. Adapun data yang digunakan pada penulisan ilmiah ini bersumber pada laporan keuangan khususnya neraca dan laporan laba rugi periode 31 Desember 2005 sampai dengan 31 Desember 2009.

Tujuan Penulisan

Untuk mengetahui perusahaan yang mempunyai kinerja keuangan yang terbaik.

Manfaat Penulisan

Bagi Penulis

Bagi penulis penelitian ini berguna untuk menambah wawasan dan pengetahuan tentang analisis fundamental pada saham. Hal ini merupakam aplikasi dari teori yang didapat dari perkuliahan umum.

Bagi Pembaca

Kegunaan penulisan ini bagi pembaca adalah sebagai bahan pengetahuan tentang cara penulisan ilmiah dan tentang bagaimana investor melakukan penilaian harga saham sebuah perusahaan yang dipilihnya.

Bagi Investor

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan sebagai pertimbangan bagi investor dalam pengambilan keputusan atau sebagai tambahan bahan evaluasi untuk mengambil keputusan investasi saham.

Metode Penelitian

Obyek Penelitian

Objek penilitian adalah dua perusahaan emiten pulp and paper yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia yaitu PT Fajar Surya Wisesa Tbk dan PT Suparma Tbk.

Data dan Variabel

Data yang digunakan oleh penulis adalah data sekunder berupa peninjauan laporan keuangan yang telah dipublikasikan melalui annual report di BEI periode 31 Desember 2005 sampai 31 Desember 2009.

Yang menjadi variabel dalam penelitian ini adalah berupa rasio likuiditas yang terdiri dari Current Ratio dan Quick Ratio, rasio profitabilitas terdiri dari, Net Profit Margin dan Return on Asset (ROA), rasio leverage terdiri dari Dept Ratio dan Dept to Equity Ratio (DER), rasio aktivitas terdiri dari Total Asset Turn Over dan Fixed Asset Turn Over, dan rasio pasar terdiri dari Earning per Share (EPS) dan Book Value per Share.

Metode Pengumpulan Data

Semua data yang dipergunakan dalam penelitian ini merupakan data sekunder yang dikumpulkan melalui studi literatur dan pencarian di berbagai situs internet.

Alat Analisis yang Digunakan

Adapun alat analisis yang digunakan penulis yaitu:

Analisisa Kialitatif

Dalam analiss kualitatif penulis mencoba untuk menjelaskan hasil penelitian yang telah dilakukan sehingga mudah untuk dianalisis dan mudah untuk dipahami oleh pembaca dan pihak lain.

b. Analisis Kuantitatif

Untuk mengetahui berapa pengaruh analisis fundamental terhadap pengambilan keputusan investasi maka analisis secara kuantutatif penulis menggunakan rasio keuangan, antara lain:

1. Rasio likuiditas

a. Current Ratio

b. Quick Ratio

2. Rasio Profitabilitas

a. Net Profit Margin

b. Return on Asset (ROA)

3. Rasio Leverage

a. Dept Ratio

b. Dept to Equity Ratio (DER)

4. Rasio Aktivitas

a. Total Asset Turn Over

b. Fixed Asset Turn Over

5. Rasio Pasar

a. Earning per Share (EPS)

b. Book Value per Share (BVS)

. Analisis Komperatif

Metode ini digunakan dalam menganalisis dan membandingkan rasio keuangan yang meliputi dua jenis perbandingan, pertama analisis dapat membandingkan rasio sekarang dengan rasio yang lalu dan yang akan datang untuk perusahaan yang sama (perbandingan internal), kedua perbandingan rasio perusahaan dengan perusahaan lainnya yang sejenis.

Metode Pengumpulam Data

Data sekunder berupa peninjauan laporan keuangan per 31 Desember 2005 sampai 31 Desember 2009 yang telah dipublikasikan melalui annual report di alamat situs BEI dan lainnya. Melalui studi pustaka, buku-buku literatur yang relevan dengan penelitian ini dan pencarian di berbagai situs internet.

Hasil Penelitian dan Analisis

Dengan tiga analisis, penulis berusaha untuk menjelaskan hasil penelitian secara kuantitatif, kualitatif dan komperatif. Adapun hasil penelitian itu akan dikombinasikan dengan ketiga analisis tersebut.

Analisis Rasio Keuangan

A. PT Fajar Surya Wisesa Tbk

1. Analasis Likuiditas

a. Current Ratio (CR)

Aktiva Lancar

Current Ratio = ─────────

Utang lancar

506.737.601.063

CR 2005 = ────────────

277.229.177.6512

= 1,83

Dari tabel 4.1 dapat diketahui pada tahun 2005 current ratio menunjukkan angka 1,83, ini berarti setiap utang lancar Rp 1,- dijamin oleh aktiva lancar Rp 1,83. Pada tahun 2006 angka current ratio mengalami kenaikan sebesar 0,01 menjadi 1,84, ini berarti setiap utang lancar Rp 1,- dijamin oleh aktiva lancar Rp 1,84. Pada tahun 2007 jumlah current ratio mengalami kenaikan sebesar 0,08 menjadi 1,92, ini berarti setiap utang lancar Rp 1,- dijamin oleh aktiva lancar Rp 1,92. Pada tahun 2008 jumlah current ratio megalami kenaikan dari tahun sebelumnya sebesar 0,16 menjadi 2,08, ini berarti setiap utang lancar Rp 1,- dijamin oleh aktiva lancar Rp 2,08. Pada tahun 2009 current ratio mengalami kenaikan kembali dari tahun sebelumnya sebesar 0,23 menjadi 2,31, ini berarti setiap utang lancar Rp 1,- dijamin oleh aktiva lancar Rp 2,31.

B. PT Suparma Tbk

1. Analisis Likuiditas

a. Current Ratio (CR)

Aktiva Lancar

Current Ratio = ─────────

Utang lancar

239.576.456.977

CR 2005 = ────────────

305.133.957.984

= 0,79

Dalam tabel 4.11 terlihat pada tahun 2005 current ratio menunjukkan angka 0,79, ini berarti setiap utang lancar Rp 1,- dijamin oleh aktiva lancar Rp 0,79. Pada tahun 2006 angka current ratio mengalami kenaikan sebesar 2,98 menjadi 3,77, ini berarti setiap utang lancar Rp 1,- dijamin oleh aktiva lancar Rp 3,77. Pada tahun 2007 jumlah current ratio mengalami kenaikan sebesar 0,27 menjadi 4,04, ini berarti setiap utang lancar Rp 1,- dijamin oleh aktiva lancar Rp 4,04. Pada tahun 2008 jumlah current ratio megalami penurunan kembali dari tahun sebelumnya sebesar 1,06 menjadi 2,98, ini berarti setiap utang lancar Rp 1,- dijamin oleh aktiva lancar Rp 2,98. Pada tahun 2009 current ratio mengalami penurunan dari tahun sebelumnya sebesar 1,59 menjadi 1,39, ini berarti setiap utang lancar Rp 1,- dijamin oleh aktiva lancar Rp 1,39.

Kesimpulan

Berdasarkan hasil pembahasan pada bab IV, penulis mengambil kesimpulan bahwa:

Dari hasil perhitungan dengan menggunakan analisis fundamental, dalam hal ini rasio-rasio keuangan, serta melalui perbandingan internal maupun eksternal, PT Fajar Surya Wisesa Tbk lebih baik kinerjanya bila dibandingkan PT Suparma Tbk. Dari nilai rata-rata kelima rasio, PT Fajar Surya Wisesa Tbk memiliki tiga nilai rata-rata rasio keuangan yang lebih baik, yaitu rasio aktivitas, rasio profitabilitas dan rasio pasar. Nilai rata-rata masing-masing rasio adalah, Fixed Asset Turn Over 0,88, Total Asset Turn Over 0,65, Net Profit Margin 4,46%, Return on Asset 2,99%, Earning per Share 43,81, dan Book Value per Share 519,39. Sedangkan PT Suparma Tbk hanya unggul dalam rasio likuiditas dan rasio leverage, dengan nilai current ratio 2,59, quick ratio 0,59, dept ratio 60,28% dan dept to equity ratio1,27. Jadi ini dapat diartikan bahwa PT Fajar Surya Wisesa Tbk layak dipilih dari pada PT Suparma Tbk.

Saran

Berdasarkan hasil perhitungan, analisis dan kesimpulan yang telah diuraikan sebelumnya, maka penulis memberikan saran yang diharapkan dapat bermanfaat bagi pembaca yaitu:

1. Pengukuran rasio-rasio keuangan dapat memberikan kesimpulan yang berarti dalam penentuan tingkat kesehatan keuangan suatu perusahaan. Rasio tersebut dibentuk dari data akuntansi dan data ini dipengaruhi oleh cara penafsirannya, jadi investor harus berhati-hati dalam penilaian apakah suatu rasio tertentu baik atau buruk dalam penilaian gabungan tentang sebuah perusahaan, berdasarkan suatu kumpulan rasio - rasio.

2. Dalam menganalisa setiap rasio, angka-angka yang diperoleh dan perhitungan tidak dapat berdiri sendiri. Rasio tersebut akan berarti bila setidaknya satu dari dua hal ini dipenuhi 1)Adanya perbandingan dengan perusahaan sejenis; 2)Adanya analisa kecenderungan (trend) dari setiap rasio pada tahun – tahun sebelumnya.

DAFTAR PUSTAKA

Habib, Arief. 2008. Kiat Jitu Peramalan Saham Analisis dan Teknikal. Yogyakarta: Andi Offset.

Halim, Abdul. 2003. Analisis Investasi. Jakarta: Salemba Empat.

Husnan, Suad dan Eny Pudjiastuti. 2006. Dasar-Dasar Manajemen Keuangan. Edisi 5. Yogyakarta :UPP STIM YKPN.

Raharjaputra, Hendra S. 2009. Manajemen Keuangan dan Akuntansi untuk Eksekutif Perusahaan. Jakarta: Salemba Empat.

Sundjaja, Ridwan dan Inge Berlian. 2003. Manajemen Keuangan Satu. Edisi ke lima. Jakarta: Literata Lintas Media.

S. Munawir.2007. Analisa Laporan Keuangan. Cetakan ke Empat Belas. Yogyakarta: Liberty Yogyakarta.

http://id.wikipedia.org.

http://www.idx.co.id.

http://www.ipotindonesia.com.

http://www.organisasi.org.

Minggu, 29 Mei 2011

From Purbalingga To Korsel

Di zaman yang semakin modern ini, banyak orang mulai meninggalkan peratalan rumah tangga tradisional dan beralih ke produk elektronik. Hal ini yang menjadi sebagian orang memandang usaha pembuatan sapu merupakan produk murahan dan tidak ada prosfek. Namun tidak untuk Bambang Triono. Berkat kerja keras dan kreatifitas, sapu buatan pria 32 tahun ini mampu menembus ke pasar mancanegara.

Seperti yang ditulis pada kompas, sekitar 200 warga di Desa Karanggambas telah menjadi karyawan Bambang. Sebanyak 114 Keluarga di Dusun Genting, Purbalingga membuat sapu di rumah masing-masing dalam bentuk plasma. Sapu-sapu itu lalu disetor ke Bambang untuk dijual.

Pada tahun-tahun awal usahanya, Bambang menjual sapunya dengan berkeliling menggunakan sepeda. Sapu yang tidak laku pun menjadi santapan tiap harinya. Tetapi saat berkeliling Bambang tidak hanya menjajakan sapunya, dia juga membangun jaringan distribusi. Sehingga dia dipercaya untuk menyuplai ke Purbalingga, dan Purwokerto, lalu berlanjut ke daerah Tasikmalaya, Bandung, Bogor hingga Jakarta.

Ditengah usahanya yang mulai berkembang ia mengalami rugi besar akibat penipuan yang dilakukan oleh salah satu distributor dan kesalahan manajemen. Karena kejadian tersebut, usaha sapunya terhenti selama dua tahun.

Dengan sifat pantang menyerah yang ada dalam dirinya, Bambang mencoba membangun usanya kembali. Hasilnya, sapu Bambang kini diminati distributor Malaysia, Korea Selatan dan Jepang. Setiap bulannya Bambang mengirimkan 10.000 potong sapu ke Malaysia dan 80.000 potong sapu ke Korsel. Namun jumlah tersebut masih separuh dari jumlah permintaan yang ada. Memang saat ini usahnya pembuatan sapu Bambang belum bisa memenuhi semua permintaan pasar. Hingga saat ini Bambang masih terus berusaha untuk bisa memenuhi permintaan tersebut, agar semakin banyak pengangguran yang terserap dan sapu Purbalingga semakin terkenal di luar negeri.

Sumber: Kompas 16 april 2011