Jumat, 08 April 2011

LALU LINTAS PEMBAYARAN INTERNASIONAL

Transaksi-transaksi pembayaran anatr daerah tidak aakn menjumpai masalah-masalah semacam yang banyak dijumpai dalam lalu lintas pembayaran internasional, oleh kerena semua daerah kekuasaaan sebuah negara pada umumnya menggunakan mata uang yang sama. Sedangkan pembayaran dengan menggunakan cek atau giro akan hanya merupakan pemindah bukuan perkiraan bank saja dari saldo kresit pembayaran ke saldo kredit penerma pembayaran.

Dalam lalu lintas pembayaran antar negara, tidak demikian halnya. Misalnya seorang importir indonesia membeli sejumlah barang dari ekportir di Amerika. Transaksi jual beli ini pelaksaan pembanyaran lebih kompleks dibandingka dengan pembayarn yang timbul dari adanya transaksi jual beli antara dua orang penduduk yang tinggal pada suatu negara yang sama. Hal ini di sebabkan antara lain karena mata uang yang berlaku di Amerika berbeda dengan mata uang di yang berlaku di Indonesia.

Sering juga pembayaran terjadi dengan mata uang negara ketiga. Misalnya dengan membeli barang dari jepang kita dapat membayarnya dengan dolar amerika. dengan demikian , sebelum kita mengadakan transaksi pembelian barang-barang dari jepang kita harus terlabih dahulu memperhitungkan kurs-kurs devisa yang memungkinkan kita membandingkan nilai barang tersebut dinyatakan dalam dolar Amerika, dalam yen dan dalam rupiah. Masalah-masalah semacam inilah yang menyebabkan lalu lintas pembayaran internasional berbeda dengan lalu lintas pembayaran dalam negeri.

Peran Bank dalam Lalu Lintas Pembayaran Internasional

Bagi importir bank devisa merupakan lembaga dengan siapa mereka dapat menjual belikan surat-surat wesel keluaran luar negeri dan menggunakannya sebagai perantara dalam mengadakan penagihan-pengihan kepada debitur di luar negeri. Misalnya saja seorang eksportir indonesia menutup perjanjian jual beli dengan seorang importir Inggris. Dalam perjanjian jual beli ini, pada dasarnya satuan mata uang yang digunakan dapt berupa poundsterling (inggris), Rupiah (Indonesia) atau dapat pula menggunakan satuan mata uang neggara ketiga, hal tersebut terserah kepada mereka bersangkutan. Akan tetapi perlu kiranya diketengahkan disini, bahwa pada umumnya para eksportir, juga kebanyakan pemerintah negara ekspor hampir senantiasa menghendaki untuk menggunakan hard cuurency atau mata uang kuat dalam mengadakan perjanjian jual-beli dengan para pembeli di luar negeri dan bukan soft curreny atau mata uang lemah.

Jadi kalau ekdportir menarik wesel dengan menggunakan satuan mata uang dolar, maka pembayarannya akan dilakuakn dengan menggunakan dolar juga. Sedangkan kalu dalam surat wesel jumlah yang harus dibayar oleh importir dinyatkan dalam Poundsterling, maka pembayarannya akan berupa poundsterling. Oleh karena bank-bank devisa menjual belikan surat-surat wesel luar negeri maka bank-bank devisa tersebut pada umunya mempunyai rekening pada bank-bank di berbagai negara. Kalu misalnya seorang eksportir emerika menjual surat wesel yang ditariknya atas seorang importir inggris yang jumlahnya dinyatakan dalm poundsterling kepada sebuah bank amerika maka dengan demikian surat wesel ini, bank dapat menjualnya kepada importir amerika yang membutuhkan meta uang poundsterling untuk membayar transaksi impornya, atau mendiskontokan surat wesel tersebut kepada bank devisa Di inggris maka saldo bank devisa amerika tersebut di inggris akan bertambah.

Pusat Finansial Internasional

Mekanisme pembayran internasional ditentukan oleh pola hubungan bank-bank yang ikut aktif beroperasi dalm bidng jual beli alat-alat pembayaran internasional. Kita dapat membedakan tiga macam pola hubunan antae bank dalm melaksanakan penyelesaiaan utang piutang di antara mereka.

Ketiga pola tersebut adalah:

  1. Penyelesaian utang piutang dengan pola desentralisasi. sistem semacam ini biasa disebut decentralized sytem of internasional payment.
  2. penyelesaian utang piutang secara terpusat (centralized system of internasional payment.
  3. Campuran dari kedua bnetuk tersebut.

Apabila sistem perbankan negara yang satu dengan sistem perbankan negara lain dalam menyelesaikan utang pituangnya dilakukan secara bilateral, maka sistem pembayaran internasional ini kita sebut sebgai decentaralized sytem of interbasional payment. Sebaliknya apabila ubungan antar bank-bank dari suatu negara dengan ban-bank dari negara lain mengenai penyesaian saldo-saldo rekeningnya dilakukan melalui sebuh centalized international payment sytem.

Valuta Asing dan Bursa Valuta Asing

Bursa valuta asing yang biasa disebut pula foregin exchange market diartikan sebgai lembaga pasar di mana oarang dapt memperoleh fasilitas-fasilitas untuk melaksanakan pembayaran kepada penduduk negara lain atau menerima pembayaran dari penduduk negara lain. Mengingat bahwa untuk melaksakan pembayaran kepada penduduk negara lain di perlukan valuta asing, sedangkan sebaliknya penerima pembayaran dari penduduk negara lain menciptakan penawaran akan valuta asing, maka tidak sedikit pula yang mengartikan bursa valuta asing dipertemukan.

Dalam bursa valuta asing pada dasarnya bank-bank devisa bertindak sebgai penghubung antara para peminta valuta asing dengan para pa\enawr valuta asing dan juga sebagai pihak yang membiayai transaksi-transaksi luar negeri, dalam arti meyediakan modal yang didapat dipakai oleh mereka yang mengadakan transaksi pembayaran internasional tersebut semasa transaksi yang dibiayai belum sepenuhnya dilaksanakan secara tuntas. Hanya apabila bank-bank devisa tersebut melukan transaksi-transaksi yang lainnya sifatnya spekulatif, barulah bank-bank tersebut dapat bertindak sebagai penghubung juga di samping sebagai sumber asal permintaan dan penawaran valuta asing. Sebagai sumber asal permintaan akan valuta asing dapat disubutkan:

  1. Para importir barang–barang dan jasa-jasa
  2. Para investor dalam negeri yang memerlukan valuta asing untuk menyelesaikan kewajiban-kewajiban luar negerinya yang timbul dari transaiksi pembelian surat-surat berharga dari penduduk negara lainya yang timbul dari transaksi pembelian kepada penduduj negara lain.
  3. Para debitur dalam negeri yang memerlukan valuta asing untuk melunasi kewajiban-kewajiban luar negerinya yang timbul sebagai akibat daripada utang-utang luar negerinya yang telah jatuh tempo atau untuk membayar bunga pinjaman luar negerinya.
  4. Wisatawan-wisatawan dalam negeri yang akan melawat ke luar negeri.
  5. Perusahaan-perusahaan asing yang harus membayar deviden yang dibagikan kepada para pemegang saham di luar negeri
  6. Rumah-rumah tangga keluarga yang membutuhkan valuta asing untuk membiayai studi anggota keluarganya yang belajar diluar negeri.
  7. pemerintah yang membutuhkan valuta asing untuk membiyai perwakilan-perwakilannya di luar negri, untuk menyelesaikan utang-utang kuar negeri yang jatuh tempo, membayar bunga, dan sebagainya.
  8. Para spekulan yang misalnya saja meramalkan akan adanya tindakan devaliuasi, mempunyai tedensi berlomba-lomba membeli valuta asing.

Adapun bentuk bentuk valuta asing yang diperjual belukan umumnya berbentuk:

  1. mata uang aing yang konvertebel
  2. saldo kredit pada bank-bank deivsa kita di luar negeri
  3. surat-surat wesel
  4. Hak-hak pembayaran dari penduduk negara lain dalam bentuk lainnya yang mempunyai tingkat likuiditas yang tinggi.

Fungsi fokok bank devisa:

  1. melaksanakan transfer pembayran internasional
  2. menyediakan kredit untuk membiayai transaksi-transaksi ekonimi internasional
  3. menggung resiko perubahan kuras valuta asing

Surat Wesel Dagang

Diats disebutkan bahwa surat wesel dagang luar negeri adalah salah satu bentuk valuta asing. Dengan sendirinya surat wesel kuar negri yang nilainya dinyatakan dalam mata uang kuat. Surat wesel jenis ini pada umumnya timbul sebagai akibat dari adnya transaksi perdagangan. mereka yang memperdagangkan surat-surat wesel semacam ini perlu memperhatikan tinggi tingkat bunga yang digunakan dalammendiskontokan surat weael tersebut dan sifat-sifat transaksinya. Mengenai perku diperhatikan sifat dalampengihannya, sering-sering dipengaruhi oleh bonafidtas pihak pengimpor, dan juga macam barang yang dujual belikan.

Mata kuat Lawan dan Mata Uang Lemah

Mata uang kertas yang ada konvertibel dan ada pula yang tidak konvertibel. Sedangkan aliran tidak konvertibel atau incorvertibel juga ada dua macam:

    1. Inconvertibel dalm artian tidak bebas untuk ditukarkan nengan emas atau ditukarkan dengan mata uang asing
    2. Inconvertibel dalam arti sukar untk ditukarkan dengan mata uang negara lain

Dengan demikian pada umumnya para eksportir menghendaki pembayaran atas barang yang dijualnya kepada penduduk negara lian dilakukan dengan menggunakan mata uang yang konvertibel. berdasarkan perbedaaan derajat konvertbelnya dalam lalu lintas pembayaran internasional biasanya dibedakan dua kelompok nata uang:

a. Hard currencies (mata uang kuat) atau kertas yaitu mata uang yang memiliki sifat acceptability yang tinggi. Pada umumnya mata uang semacam ini dengan sendirinya juga mempunyai convertibility yang tinggi

b. Soft currencies atau mata uang lemah yaitu laawan dari mata uang kuat. Kalau hard currencies sangat disukai oleh masyarakat dunia pada umumnya dipai oleh kebanyakan negara sebagai cadangan internasional, soft surrensies sangat sedikit atau bahkan tidak mungkin tidak ada pemintanya.

Hedging

Apabila transaksi juak beli yang diadakan oleh penduduk suatu negara dengan penduduk negara lain pembarannya tidak seketika, maka pihak pengekspor atau pihak pengimpor akan menanggung resiko yang timbul sevagai akibat adanya perubahan kurs valuta asing. untuk menghindari resiko yang timbul dari kemunhkinan adanya perubahan kurs valuta asing, maka inportir maupun eksportir dapat melakukan apa yang disebut hedging, yaitu dengan mengadakn forwad axchange dengan bank. Dalam hal ini bank dengan mendapatkan pembayaran terlebih dahulu dari importir berjanji untuk menyerahkan sejumlah uanh tertentu kepada importir seduai dengan apa yang telah ditetapkan dalam perjanjian. Bagi eksportir, ia dapat memindahkan resiko yang timbul dari perubahan kurs valuta asing dengan jalan menjual surat wesel yang ditariknya atas importir kepada bank. Dengan demikian importir maupun eksportir tidak lagi menggung resiko yang timbul sebagai akibat dari adanya perubahan kurs valuta asing.

Arbitrage

Kalau valuta asing yang terjadi di negara satu berbeda dengan kurs valuta asing yang terjadi dinegara lain, maka biasaya akan timbul apa yang biasa disebut arbitrage. tindakan arbitrage mempunyai pengaruh menghilangkan atau paling sedikit mengurangi perbedaab kurs valuta asing antar puasat finansial yang lain atau antara negara yang satu dengan negara yang lain. Rbitrage dapat dijalankan diantara dua negara, dapat juga diadakan di antar tiga negara atau lebih.


Sumber: seri diktat kuliah , universitas gunadarma

Selasa, 05 April 2011

MANAJEMEN RISIKO KEUANGAN


Tujuam diadakannya risiko keuangan adalah untuk meminimalkan potensi kerugian yang timbul dari perubahan tak terduga dalam harga mata uang, kredit, komoditas, dan ekuitas. Resiko volatitas harga yang dihadapi ini dikenal sebagai resiko pasar.

Para pelaku pasar cendrung tidak berani mengambil resiko. Perantara jasa keuangan dan pencipta pasar memberikan respons dengan menciptakan produk keuangan yang memungkinkan seorang pelaku pasar untuk mengalihkan resiko perubahan harga tak terduga kepada orang lain-pihak lawan.

Resiko pasar tedapat dalam berbagai bentuk, resiko-resiko lainya:

1. Resiko likuiditas timbul karena tidak semua produk manajemen risiko keuangan dapat diperdagangkan secara bebas. Pasar yang sangat tidak likuid ini misalnya seperti real estate dan saham dengan kapitalitas kecil.

2. Diskontinuitas pasar mengacu pada risiko bahwa pasar tidak selalu menimbulkan perbahan harga secara bertahan. Kejatuhan pasar saham pada tahun 2000 perupakan suatu contoh kasus.

3. Risiko kredit merupakan kemungkinan bahwa pihak lawan dalam kontrak menajemen risiko tidak dapat memenuhi kewajibannya. Sebagai contoh, pihak lawan yang menyepakati penukaran euro Prancis menjadi dolar Kanada mungkin gagal untukmenyerahkan euro pada tanggal yang dijanjikan.

4. Resiko regulasi adalah resiko yan timbul karena pihak otoritas publik melarang penggunaan suatu produk keuangan untuk tujuan tertentu.

5. Resiko pajak merupakan resiko bahwa transaksi lindung nilai tertentu tidak dapat memperoleh pelakuan pajak yang diinginkan.

6. Resiko akutansi adalah peluanga bahwa suatu transaksi linai tidak dapat dicatat sebagai bagian dari transaksi yang hendak dilindungi nilai.

Mengapa Megelola Risiko Keuangan?

Pertumbuhan jasa manajemen risiko yang cepat nenunjukan behwa manajemen dapat meningkatkan nilai perusahaan dengan mengendalikan risiko keuangan. Jika nilai perusahaan menyamai nilai arus kas masa depannya, manajemen risiko yang aktif dapat dibenarkan dengan beberapa alasan.

Pertama, manajemen eksposur membantu dalam menstabilakan ekspektasi arus kas perusahaan. Aliran arus kas yang lebih stabil dapat meminimalkan kejutan laba sehinggga meningkatkan nilai ekspektasi arus kas. Manajemen eksposur yang katif memungkinkan perusahaan untuk berkonsentrasi pada risiko bisnianya yang utama.

Para pemberi pinjaman , karyawan dan pelanggan juga memperoleh manfaat dari menajemn eksposur. Akhirnya karena kerugian yang ditimbulkan oleh risiko harga dan suku bnga tertentu dialihkan kepada pelngggan dalam bentuk harga yang lebih tinggi, manajemen eksposur membatasi risiko yang dihadapi oleh konsumen.

Peranan Akutansi

Akutansi menajemn memnamtu dalam mengidentifikasikan eksposur pasar menguantikfikasi keseimbangan yang terkait dengan strategi respon risiko alternatif, mengukur potensi yang dihadapi perusahaan terhadap risiko tertentu, mencatat produk lindung nilai tertentu dan mengevalusi program lindung nilai.

  1. Identifikasi Risiko Pasar

Kerangka dasar yan bermanfaat untuk mengidentifikasikan berbgai jenis resiko market yang berpotensi dapat disebut sebagai pemetaan risiko. Kerangka ini diawali dengan pengamatan atas hubungan berbagai risiko pasar terhadap pemicu nilai suatu perusahaan dan pesaingnya. Dan biasanya disebut sebagai kubus pemetaan risiko. Istilah pemicu nilai mengacu pada kondisi keuangan dan pos-pos kinerja operasi keuangan utama yang mempengaruhi nilai suatu perusahaan. Risiko pasar mencakup risiko kurs utama yang mempengaruhi nilai suatu perusahaan. Resiko pasar mencakup risiko kurs valuta asing dan suku bunga, serta risiko harga komoditi dan ekuitas.

Dimensi ketiga dari kubus pemetaan risiko, melihat kemungkinan hubungan antara risko pasar dan pemicu nilai untuk masing-masing pesaing utama perusahaan.

  1. Menguantifikasi Penyeimbang

Peran lain yang dimainkan oleh para akuntan dalam proses manajemen risiko meliputi proses kualifikasi penyeimbangan yang berkaitan dengan alternatif strategi respon risiko. Akutan harus mengukur manfaat dari lindung dinilai dan dibandingkan dengan biaya plus biaya kesempatan berupa keuntungan yang hilang dan berasl dari spekulasi pergeakan pasar.

  1. Manajemen Risisko Di dunia dengan Kurs Mengambang

Risiko kurs valuta asing adalah salah satu brntuk risiko yang paling umum dan akan dihadapi oleh perusahaan multinasional. Dalam dunia kurs mengambang, manajmen risiko mencakup:

    1. Antisipasi pergerakan kurs
    2. pengukuran risiko valuta asing yang dihadapi perusahaan
    3. perencangan strategi perlindungan yang memadai
    4. pembuatan pengendalian manajemen risiko internal

1. Peramalan atas Perubahan

Informasi yang sering kali digunakan dalam membuat peramalan kurs (yaitu depresiasi mata uang) berkaitan dengan perubahan dalam faktor-faktor berikut:

- perbedaan inflasi

- neraca perdangan

- neraca perdagangan

- cadangan moneter dan kapasitas utang luar negeri

- anggaran nasional

- kurs forward

- Kurs tidak resmi

- perilaku mata uang terkait

- perbedaan suku bunga

- harga opsi ekuitas luar negeri

Faktor politik sangat mempengaruhi nilai mata uang di banyak negara. Respon politik terhadap tekanan devaliasi atau relevansi sering kali menghasilkan pengukuran untuk sementara waktu dan bukan penyesuain kurs. Penyusunan temporer ini meliputi pajak tertentu, kontrol impor, insentif ekspor, dan kontorl mata uang.

2. Manajemen Potensi Risiko

Menyusun struktur permasalahan untuk meninimalkan pengaruh buruk kurs memerlukan informasi mengenai potensi terhadap risiko yang dihadapi. Potensi terhadap risiko valas timbul apabila perubahan kurs valas juga mengubah nilai kativa bersih, laba dan arus kas suatu perusahaan. Pengukuran akutansi tradisional terhadap potensi risiko valas ini berpusat pada dua jenis potensi risiko: tranlasi dan transaksi.

Potensi Risiko Akutansi versus Ekonomi

Ini merupakan pengaruh perubahan nilai mata uang terhadap kinerja operasi dan arus kas masa depan perusahaan. Laporan risiko tradisionall mempertimbangkan pengaruh perubahan kurs terhadap saldo akun per tanggal laporan keuangan. Laporan arus kas multi mata uang menekankan potensi risiko yang dihasilkan oleh perusahaan kurs selama periode anggaran yang berlaku.

Istilah potensi risiko ekonomi menunjukan bahwa perubahan kurs yang mempengaruhi posisi kompotensi perusahaan dengan mengubah harga masukan dan keluaran perusahaan relatif terhadap harga kompetitor luar negeri. Potensi risiko ekonomi atau operasi terkait atau tidak memiliki kaitan dengan potensi risiko tranlasi atau transaksi. Dengan demikian pengelolaan atas potensi risiko semacam itu memerlukan teknologi lindung nilai yang lebih bersifat strategis dan bukan taktis.

Perusahaan dapa tmemilih untuk lindung nilai struktural yang mencakup pemilihanatau korelasi tempat menufaktur untuk mengurangi potensi risiko perasi usaha secra keseluruhan. Sebagai alternatif, induk perusahaan dapat mengambil pendekatan portofolio untuk mengurangi risiko dengan memilih jenis-jenis yang dapat mengurangi potensi risiko yang dihadapi.

Pengukuran potensi risiko yang tepat memerlukan pemahaman struktur pasar di mana perusahaan dan pesaingnya memerlukan kegiatan usaha, serta pengaruh kurs ril. Pengaruh ini sukar untuk diukur. Karena potensi risiko operasi cenderung berada dalam periode waktu yang lama ketidakpastian dalam hal dapt diukur atau tidak, dan tidak berdasarkan pada komitmen secara terbuka, maka akuntan harus menyediakan informasi yang mencakup berbagai fungsi operasi dan periode waktu.

Strategi Perlindungan

Sekali risiko kurs yang dihadapi dapt diidentifikasi langkah berikutnya adalah merancang strategi lindung nilai intuk meminimalkan atau menghilangkan potensi risiko tersebut yang mencakup:

  1. Lindung Neraca
  2. lindung nilai operasi
  3. lindung nilai struktural
  4. lindung nilai kontraktual

Akutansi Untuk Produk Lindung Nilai

Merupakan kontrak atau instrumen keuangan yang mengungkinkan penggunaan untuk memimalkan, menghilangkan, atau paling tidak mengalihkan risoko pasar pada pundak pihak lain. produk ini mencakup antara lain kontrak forward, future, swap, opsi, dan gabungan dan ketiganya. Untuk memahami pentingnya akutansi lindung nilai, dicontohlan beberapa praktik akutansi lindung nilai yang dasar.

Para analis biasanya memusatkan perhatian pada operasi ketika menevaluasi seberapa baik menajemen telah menjalankan usaha intinya. Laba bersih mencakup pengaruh kejadian luar biasa atau peristiwa jarang terjadi yang cukup membingungkan.

Perlakuan akutansi derivatif keuangan yang telah diterima secara internasional adalah ditetapkan nilai produk menurut pasar dengan timbul keuntungan atau kerugian yang diakui sebagai dari laba nonoperasi.

Beberapa kriteria lindung nilai yang memadai, mencakuphal-hal berikut:

  1. Pos-pos yang sedang dilindungi nilai menimbulkan risiko pasar yang harus dihadapi perusahaan.
  2. Perusahaan mendeskripsikan strategi lindung nilai
  3. Perusahaan menentukan instrumen yang akan digunakan untuk lindung nilai
  4. Perusahaan mencatat alasanya menapa lindung nilai yang dilakukan kemungkinan besar akan efektif dilakukan.

Perlakuan Akutansi

FASB menerbitkn FAS No.133, yang diklarifikasi melalui FAS 149 pada bulan april 2003, untuk memberikan pendekatan tunggal yang komprehensif atas akutansi untuk transaksi derivatif dan lindung nilai. IFRS no.39 yang baru saja direvisi berisi panduan yang untuk pertama kalinya memberikan tuntunan yang universal terhadap akutansi utntuk derivatif keuangan.

Kebanyakan instrumen keuangan, yang sifatnya dapat dieksekusi, diperlakukan sebagai pos-pos di luar neraca. Situasi penuh kehati-hatian dirasakan oleh para pembaca laporan keuangan yang berupa laporan keuangan untuk mengukur volume dan resiko penggunan derivarif.

Isu praktik

Yang pertama berkaitan dengan penentuan nilai wajar. Wallace menyebutkan adanya empat cara untuk mengukur perubahan dalam nilai wajar risiko yang sedang dilindungi nilai: nilai pasar wajar, penggunaan kurs spot nilai tukar lainnya, dan penggunaan model penentu harga opsi.

Kompleksitas pelaporan keungan juga semakin meningkat jika lindung nilai diangggap tidak sangat efektif untuk mengimbangi risiko valas. Sangat efektif berarti terdapat korelasi yang negatif sempurna antara perunahan dalam nilai atau arus kas derivatif dan perubahan dalam nilai atau kurs kas atas sesuatu yang dilindungu nilai tersebut. Hal ini menunjukan adanya kisaran perubahan nilai derivatif yang dapat diterima. FASB merekomendasikan keuntungan atau kerugian yang ditanggungkan sebelumnya dakui dlam laba berjalan dan akan memunculkan kembali volatilitas angtidak diinginkan kedalam arus laba yang dilaporkan perusahaan.

Lindung Nilai Investasi Bersih Dalam Operasi Luar Negeri

Kapan saja sebuah anak perusahaan luar negeri yang meimilh posisi aktiva bersih terpapar hendak diskonsolidasikan dengan induk perusahaan, maka akan timbul kerugian tranlasi jika nilai uang asing mengalami penurunan relatif terhadap mata uang indukperusahaan. Kerugian tranlasi juga terjadi jika anak perusahaan luar ngeri memiliki posisi kewajiban bersih terpapar dan nilai mata uang asing meningkat relatif terhadap mata uang induk perusahaan. Salah satu cara untuk meminimalkan kerugian ini adalah dengan membeli kontrak forward. Strategi ini berarti menggunakan keutungan transakasi yang direalisasikan dari kontrak forward untuk mngimbangi kurugian translasi.

Berspekulasi dalam Mata Uanag Asing

Peluang untuk meningkatkan laba laporan dengan menggunakan kontarak forward dan opsi dalam pasar valas. Kontak forward yang dibeli untuk spekulasi pada awalnya dicatat sebesar kurs forwar. (Kurs forward merupakan indokator kurs spot ayang terbaik yan berlaku jika kontrak telah jatuh tempo). Keuntungan atau kerugian translasi yang dialui sebelum penyelesaian bergantung pada antara kurs forward awal dan kurs forwar akhir yang tersedia untuk periode kontrak tersisa.

Kusulitan dalam pengukuran nilai wajar dan perubahan dalam nilai instrumen lindung nilai terjadi apabila derivatif keuangan tidak diperdagangkan secara aktif. Penilaian opsi dapat dengan mudah dilakukan jika opsi dicatat pada sebuah bursa efek. Penilaian opsi dapat dengan mudah dilakukan jika opsi diperdagangkan melalui perantara. Disini pada umumnya akan digubakan rumus penentuan harga secara matematis. Model penentuan harga opsi yang disebut model Black-hole dapat digunakan untuk menentkan nilai opsi pada suatu waktu.


Sumber : Yudhi Herliansah SE.Ak.M.SI. Pusat pengebangan bahan ajar UMB